0 Cara Kerja Dakwah JT Simple dan Selalu diupdate Melalui Musyawarah Tahunan

Arahan masyaikh adalah amanah yang mesti kita jalankan. Arahan ini merupakan kelanjutan dari arahan sebelumnya. Jika ada yang sama maka itu merupakan penekanan, jika beda merupakan pergantian, dan jika belum ada sebelumnya merupakan menyempurnaan.
Azas kerja : Praktek dalam dakwah bukan bayan dan mudzakarah.
Tertib mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:
1. Umumiyyat : Jangan berdakwah kepada golongan tertentu saja. Jangan membeda-bedakan orang Islam. Utamakan dakwah kepada orang miskin dan ini merupakan sarana mendekati Allah.
2. Sabar dan Tahammul : Membalas keburukan dengan kebaikan.
3. Ijtima’iyyah : Berdakwah dengan kelembutan. Jika ada orang kasar kepada kita maka dimaafkan dan didoakan.
Amal Maqomi
Kepada penanggungjawab agar bertugas untuk memperhatikan amal maqami. Jika ada kekurangan dilengkapi, jika ada kelemahan ditingkatkan. Setiap orang menentukan waktu maqominya dan dipegang erat-erat.
1. Musyawarah Harian: Tujuannya agar dapat mengeluarkan jemaah cash. Agenda musyawarah harian: Laporan kunjungan, tujuan kunjungan akan datang, petugas taklim, dan takaza-takaza lain.
Musyawarah semua jemaah masjid.
2. Silaturahmi 2.5 jam : Menetapkan waktu kunjungan. Istiqamah. Semua rumah dikunjungi. Semua laki-laki baligh dikunjungi
3. Jaulah 1 dan 2 : Dibuat dengan penuh kerisauan. Telah ada doa jauh sebelum jaulah. Pengeluaran jemaah setelah jaulah. Rute jaulah 2 ke tempat yang belum masuk atau belum ada amal masjidnya. Lamanya 5 – 6 minggu di satu tempat.
4. Usaha memakmurkan masjid : Orang dibawa ke masjid dan dakwah disampaikan di masjid. Jika tidak bisa datang ke masjid dakwah diberikan ditempat bertemu. Untuk membuat Dakwah Taklim Istiqbal (DTI) dibutuhkan 8 (delapan) orang Islam yang bersedia walau belum ikut keluar.
5. Nusrah Jemaah : Jemaah diberi kebebasan waktu hingga kerja dakwah bisa disempurnakan (tidak harus 2 atau 3 hari saja). Jemaah gerak di muhala atau halaqah kita diberi bayan hidayah agar: 1) bekerjasama dengan orang tempatan untuk praktek 2.5 jam dan 5 amal; 2) hendaklah jemaah gerak melibatkan seleuruh orang Islam; 3) jemaah tidak pindah sebelum amal maqami bisa berjalan; 4) ajak karkun tempatan untuk bekerjasama dengan jemaah.
6. Hadir Malam Markaz : Datang dengan jemaah masjid dengan membawa tasykilan baru dan makanan buat makan bersama. Usahakan ke markaz membawa jemaah cash.
7. Kerja sama antar daerah : Propinsi yang kuat membantu propinsi yang lemah selama dua tahun. Halaqah yang kuat membantu halaqah yang lemah. Muhallah yang kuat membantu muhallah yang lemah.
8. Masturoh : 1) Istiqomah taklim rumah dan mudzakarah 6 sifat shahabat dan laki-lakinya hadir dalam taklim tersebut. 2) Setiap tiga bulan keluar masturoh secara istiqomah.
9. Taklim Rumah : 1) Dibuat mudzakarah 6 sifat. 2) Tasykil masturoh dan Rijal dari setiap rumah. 3) Petugas taklim dimusyawarahkan sebelumnya. 4) Buku Fadha’il A’mal dan Muntakhab dibaca secara bergantian.
10. Taklim muhallah masturat mingguan : Menghadirkan wanita dari semua kalangan, buku fadhail amal dan muntakhab dibaca bergantian. Syarat taklim masturah muhallah : Ada jemaah masjid, ada beberapa wanita 10/15/40/2 bln yang dapat menghandle. Di rumah orang yang telah keluar dan senang menjadi tuan rumah. Program : Taklim kitabi, Mudzakarah, Bayan, Tasykil (rijal, masturoh, dan hidup taklim rumah). Mudzakaroh 6 sifat oleh wanita yang telah menikah. Bayan diberikan oleh laki-laki yang faham kerja masturah.
11. Jur Masturah : Program : Taklim, bayan, tasykil, tafaqud, tanggal keberangkatan, jaga nishab, amal rumah, doa. Jumlah 30 – 35 pasang. Dibuat 1 s/d 2 kali dalam satu tahun.
12. Pengeluaran Jemaah : Rumah yang digunakan adalah rumah orang yang pernah keluar masturah, memenuhi syarat rumah, bukan rumah kosong. Jangan membebani tuan rumah akan perkhidmatan. Jangan memakai handphone.
13. Usaha pelajar : Hendaknya pelajar dilibatkan dalam usaha maqami.
14. Usaha Ulama : 1 tahun selanjutnya 4 bulan tiap tahun.
15. Negeri Jauh : Indonesia hendaknya mengirim jemaah ke Taiwan dan Laos secara berkesinambungan dan tidak terputus. Jemaah rijal boleh 4 bulan atau 40 hari. Jemaah masturah juga boleh.
16. Buat maktab-maktab Al Quran di setiap masjid muhallah.
17. Jika ada perbedaan pendapat dalam tertib hendaknya di kembalikan ke penanggung jawab daerah lalu ke syura Indonesia lalu ke Masyaikh di Nizamuddin.
Perhatian :
Musyawarah berasal dari kata Syawara yaitu berasal dari Bahasa Arab yang berarti berunding, urun rembuk atau mengatakan dan mengajukan sesuatu. Istilah lain tentang ahli musyawarah dikenal dengan sebutan “syuro”. Musyawarah adalah merupakan suatu upaya bersama dengan sikap rendah hati untuk memecahkan persoalan (mencari jalan keluar) guna mengambil keputusan bersama dalam penyelesaian atau pemecahan masalah yang menyangkut urusan agama, bagaimana agama Islam yang sempurna ini wujud dalam kehidupan setiap muslim.
Ajaran Islam telah menganjurkan musyawarah dan Allah memerintahkan didalam al-Qur’an. Dengan musyawarah menjadikannya suatu hal terpuji dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan negara; dan menjadi elemen penting dalam kehidupan ummat, ia disebutkan dalam sifat-sifat dasar orang-orang beriman dimana keIslaman dan keimanan mereka tidak sempurna kecuali dengannya, ini disebutkan dalam surat khusus, yaitu surat as syuura, Allah berfirman:
وَ الَّذينَ اسْتَجابُوا لِرَبِّهِمْ وَ أَقامُوا الصَّلاةَ وَ أَمْرُهُمْ شُورى‏ بَيْنَهُمْ وَ مِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ
Artinya : “(Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.)” (QS. as Syuura: 38)
Oleh karena kedudukan musyawarah sangat agung maka Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh rasulnya melakukannya, Allah berfirman:
…وَ شاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ…
Artinya : “…(Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.)…” (QS. Ali Imran: 159)
Perintah Allah kepada rasulnya untuk bermusyawarah dengan para sahabatnya setelah tejadinya perang uhud dimana waktu itu Nabi telah bermusyawarah dengan mereka, beliau mengalah pada pendapat mereka, dan ternyata hasilnya tidak menggembirakan, dimana ummat Islam menderita kehilangan tujuh puluh sahabat terbaik, di antaranya adalah Hamzah, Mush’ab dan Sa’ad bin ar Rabi’. Namun demikian Allah menyuruh rasulnya untuk tetap bermusyawarah dengan para sahabatnya, karena dalam musyawarah ada semua kebaikan dan keberkahan, walaupun terkadang hasilnya tidak menggembirakan.
Musyawarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan para sahabatnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang suka bermusyawarah dengan para sahabatnya, bahkan beliau adalah orang yang paling banyak bermusyawarah dengan sahabat. Beliau bermusyawarah dengan mereka di perang badar, bermusyawarah dengan mereka di perang uhud, bermusyawarah dengan mereka di perang khandak, beliau mengalah dan mengambil pendapat para pemuda untuk membiasakan mereka bermusyawarah dan berani menyampaikan pendapat dengan bebas sebagaimana di perang uhud. Beliau bermusyawarah dengan para sahabatnya di perang khandak, beliau pernah berniat hendak melakukan perdamaian dengan suku ghatafan dengan imbalan sepertiga hasil buah madinah agar mereka tidak berkomplot dengan Quraisy. Tatkala utusan anshar menolak, belia menerima penolakan mereka dan mengambil pendapat mereka. Di Hudaibiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bermusyawarah dengan ummu Salamah ketika para sahabatnya tidak mau bertahallul dari ihram, dimana beliau masuk menemui ummu Salamah, beliau berkata, “manusia telah binasa, aku menyuruh mereka namun mereka tidak ta’at kepadaku, mereka merasa berat untuk segera bertahallul dari umrah yang telah mereka persiapkan sebelumnya,” kemudian ummu Salamah mengusulkan agar beliau bertahallul dan keluar kepada mereka, dan beliau pun melaksanakan usulannya. Begitu melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertahallul, mereka langsung segera berebut mengikuti beliau.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah merumuskan musyawarah dalam masyarakat muslim dengan perkataan dan perbuatan, dan para sahabat dan tabi’in para pendahulu umat ini mengikuti petunjuk beliau, sehingga musyawarah sudah menjadi salah satu ciri khas dalam masyarakat muslim dalam setiap masa dan tempat.
Dalam usaha dakwah dan tabligh dimana telah nampak hasilnya di seluruh dunia, hal ini karena menjadikan musyawarah sebagai agenda dasar dan tetap dalam setiap melaksanakan aktifitas kegiatannya. Dikatakan dakwah tidak akan berhasil kecuali dengan musyawarah. Bahkan dikatakan tidak ada dakwah kecuali dengan musyawarah, karena dakwah yang dilakukan tanpa musyawarah berarti melakukan dakwah dengan hawa nafsunya yang tidak akan sampai kepada tujuan dan bahkan akan menimbulkan perpecahan dalam dakwah. Karena setiap orang punya pemikiran, pengalaman dan persepsi yang berbeda-beda, yang tidak akan bisa bersatu kecuali jika pendapat-pendapat atau pemikiran tersebut disatukan dalam musyawarah. Dengan musyawarah akan menguatkan tekad dan niat karena Allah, sehingga akan mendatangkan pertolongan Allah dalam pelaksanaannya dan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.
Dalam usaha dakwah dan tabligh ada musyawarah harian di tiap mohala, musyawarah mingguan pada tiap halaqah dan markaz, musyawarah bulanan dan evaluasi kerja pada tiap halaqah dan markaz, musyawarah bulanan dan dua bulanan markaz propinsi dan pusat negara (jakarta), musyawarah tahunan tiap negara di Nizamuddin (India). Semua permasalahan pada tiap mohala sampai antar negara bisa segera dipecahkan dan segera diselesaikan dengan musyawarah, berkat pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.
Mari semua orang berlomba-lomba ambil bagian dalam usaha dakwah dan tabligh, sebagai tugas tetap kita sampai akhir hayat dan diteruskan oleh keturunan/anak cucu sampai hari kiamat. Orang yang ambil bagian dalam usaha dakwah dan tabligh secara istiqamah, maka akan menyenangkan Allah dan RasulNya, yang dijanjikan oleh Allah dengan syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal didalamnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (dari Allah)….. Allaahummahdinaa wahdinnaasi jamii’aa waj ‘alnaa sababal limanihtadaa….. amin

sumber : http://dalamdakwah.wordpress.com

0 comments:

 

Copyright © 2015 | created by Ahbab | abdulrahmanmalayu@gmail.com

Artikel dalam web Ini depersilahkan untuk di bagikan